5 tahun telah terlewati dengan diisi perdamaian antara manusia dan kaum naga. Sekarang Hiccup beserta penghuni Berk mempunyai naga-naga mereka sendiri. Untuk membuktikan bahwa warga desa Berk bersahabat dengan para naga, Sang Kepala Suku mengadakan perlombaan penunggang naga yang diikuti oleh teman-teman Hiccup.
Sementara teman-temannya berlomba, Hiccup lebih senang mengembara menemukan pulau-pulau baru yang belum ada di dalam peta. Setelah mengikuti lomba, Astrid mendatangi Hiccup yang sedang sibuk membuat peta. Tidak disangka-sangka, mereka berhasil menemukan para pemburu naga yang mengincar Toothless dan Stormfly serta Astrid dan Hiccup. Tujuan mereka hanya satu, yaitu menyerahkan mereka kepada seseorang bernama Drago, pimpinan mereka. Tidak disangka-sangka, Hiccup juga mengetahui ibunya yang telah lama menghilang dan memegang peran penting dalam kelangsungan hidup para naga.
How to Train Your Dragon 2 adalah sebuah sekuel film animasi dari film berjudul How to Train Your Dragon (2010) yang diproduksi oleh salah satu studio yang tidak bisa diragukan lagi kualitasnya, DreamWorks Animation. Setelah mengerjakan film-film animasi yang bisa dibilang lumayan sukses, sebut saja seperti 'Turbo' (2013) serta 'Mr. Peabody & Sherman' (2014), HTTYD 2 berhasil mengumpulkan keuntungan sebanyak 50 juta dolar dalam pemutaran perdananya. Secara otomatis, HTTYD 2 menduduki peringkat kedua Box Office Amerika Serikat, setelah 22 Jump Street.
Film animasi arahan sutradara Dean DeBlois ini menampilkan cerita yang sangat out the box dengan pertarungan sengit antara pasukan desa Berk dengan pasukan yang diarahkan oleh Drago, sang Antagonis dalam cerita ini. Tidak sampai di situ, film animasi yang lakonnya disuarai oleh Jay Baruchel ini menawarkan cerita drama yang cukup mengharukan yang diselipkan di antara pertarungan-pertarungan seru.
Dilihat dari sisi animasinya, mungkin Disney harus sangat berhati-hati dengan langkah-langkah yang diambil oleh pihak DreamWorks Animation. Karena, dilihat dari ke-epik-an sekuel HTTYD ini, DreamWorks sudah mampu mengungguli kreator-kreator film animasi di luar sana. Selain itu, frame-frame yang terlihat menonjol dapat menghadirkan suasana ingin menangkap objek-objek yang melayang-layang. Walaupun gue enggak nonton film ini dengan format 3D, dapat dipastikan bahwa kegeniusan para kreator film ini untuk memperlihatkan depth yang dalam dapat menambah rating dari film ini.
Dengan munculnya film How to Train Your Dragon 2 ini, DreamWorks tidak hanya membuktikan bahwa animasi terbaik adalah milik Disney, tapi DreamWorks dapat mengungguli kekuatan Disney yang selama ini bisa dibilang animasi terbaik. Mungkin How to Train Your Dragon 2 bisa menjadi tontonan keluarga di akhir pekan ini, mengingat rating parental guide Amerika PG (Parental Guidance) dan Semua Umur di Indonesia.